Langsung ke konten utama

Amalan syari’ Dalam Upaya Menjaga Kesehatan Luar dan Dalam

virus corona

Ada beberapa amalan yang secara syari’ dapat diaplikasikan umat Islam, khususnya dalam upaya menjaga keseimbanagan antara jasmani dan rohani serta dalam upaya menjaga kesehatan dari berbagai penyakit yang tampak maupun yang gaib disebabkan bakteri, virus ataupun sebab lain bisa menyebabkan penyakit dalam diri manusia. Adapun amalan tersebut adalah:

Menjaga Wudlu

Secara bahasa berwudlu berasal dari kata wadoah yang artinya kebersihan. sedangkan menurut istilah syariat Islam wudlu adalah "menggunakan air untuk membasuh anggota tertentu yang diawali dengan niyat"[1], khususnya anggota yang menjadi bagian dari rukun wudlu yang terdiri dari wajah, kepala, kedua tangan dan kedua kaki. Diitambah anggota kesunahan yang menjadi nilai keutamaan dan kesempurnaan terhadap praktek berwudlu yang terdiri dari hidung dan telinga.

Anggota-anggota wudlu ini termasuk organ vital manusia yang sebagiannya terhubung langsung dengan organ dalam, seperti hidung mata dan telinga menjadi pintu masuk udara, cahaya serta gelombang radiasi lainnya ke bagian organ seperti paru-paru dan syaraf-syarat yang terhubung secara langsung ke bagian organ luar tersebut. 
cuci tangan
Maka, dengan berwudlu secara tidak langsung  kotoran atau barang yang tidak dikehendaki oleh tubuh dapat dibersihkan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah nabi Muhammad saw bersabda: “idzâ istaiqada ahadukum min manamihi falyastantsir tsalâtsan, fainnas syaithona yabîtu ‘alâ khusyûmihi”(mutafaq ‘alaih).

Artinya: “Apabila diantara kalian terbangun dari tidur maka hendaklah  menghirup air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya tiga kali karena sesungguhnya syetan tinggal pada  batang hidungnya.” (HR. Mutafak ‘Alaih).

Masih riwayat Abu Harairah nabi Muhammad saw bersabda: “idzâ istaiqada ahadukum min naumî fala taghmisu yadahu fil inâ haťâ yagsiluhâ tsalâtsan faińahu lâyadrî aina bâtat yadahu” (mutafaq ‘alaih).
Artinya: “Jika diantara kalian terbagun dari tidur maka janganlah mencelupkan tangannya kedalam air sehingga dia mencucinya tiga kali karean tidak diketahui dimana tangannya sekarang”. (HR. mutafak alaih).

Dari kedua hadits tersebut bahwasanya kedua tangan menjadi sumber utama yang harus dijaga sebagai anggota yang sering berinteraksi dengan anggota tubuh lainnya seperti digunakan untuk menutup mulut saat menguap, bersin maupun saat makan, dan bercebok (untuk tangan kiri).

Begitu pula dengan kaki yang digunakan berinteraksi dengan bagian bawah mungkin saja ada kotoran yang terbawa saat jalan atau bakteri lainnya, maka dengan mencucinya  menjadi salah satu jalan menjadi terhindarnya berbagai penyakit. Maka,masuk akal jika berwudlu menjadi salah satu sarana dijauhkan dari berbagai penyakit [2].

Dzikir, Doa dan Istighfar

Berwudlu menjadi sarana fisik dibersihkannya anggota luar dengan menggunakan air, sementara istighfar, dzikir dan doa merupakan sarana manusia untuk membersihkan dari bagian dalam yang secara syariat dzikir, doa dan istigfar yaitu melafalkan kalimat tertentu untuk memohon ampunan dan urusan lainnya kepada Allah seperti kalimat "astagfirullah al ‘adzim" "subhalallah" dan bentuk kalimat istighfar masyru’ lainnya khususnya yang bersumber dari al-Quran dan hadits nabi Muhammad saw.
Kemudian, secara secara hakikat (esensin) dzikir, doa dan istigfar merupakan isyarat bagi manusia untuk senantiasa menjaga perilaku dari perkara yang dilarang, baik dalam makanan maupun pekerjaan yang  menjadi hubungan penting antara lafal istigfar dzikir dan doa dengan faktor diterimanya amalan tersebut, seperti menjaga hak orang lain dan mengembalikannya jika pernah dimanfaatkan tanpa kerelaan orang tersebut, atau meminta kerelaannya jika itu berkenaan dengan ucapan dan perbuatan.

Maka, ketika berdzikir, berdoa dan beristigfar hendaknya selalu menjaga niat secara sadar untuk menjauhi dan tidak mengulangi apa telah dilakukan serta meyakini sepenuhnya atas semua kekuasaan Allah swt sebagai zat yang mengatur dan memberi rizki semua makhluk.


[1] Zakariya al-Anshari, “asnalmathalib”, Dar al-kutub al-ilmiyah, : birut, 200, j 1, h.28.
[2] Kunuz fi aȓuqyah wa aţhib, tt, tp, j.1, h.

Komentar

Copyright © 2017 ZIS ASSALAAM KUNINGAN | Cerpen Blogger |